0% found this document useful (0 votes)
40 views7 pages

Laboratory Equipment Management Guide

sop dan peraturan laboratorium IPA sekolah
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
40 views7 pages

Laboratory Equipment Management Guide

sop dan peraturan laboratorium IPA sekolah
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

YAYASAN ULIN NUHA - TEGAL

ISLAMIC BOARDING AND FULL DAY SCHOOL


SMAIT LUQMAN AL HAKIM
Alamat Jl. Gajahmada Kalisapu - Slawi Kab. Tegal/Tlp. (0283) 4561675
Kode Pos : 52416, email: smait.tegal@gmail.com

PENATAAN ALAT DAN BAHAN LABORATORIUM

A. Pengertian Laboratorium
Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya percobaan atau
penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap atau alam
terbuka misalnya kebun botani. Pada pembelajaran sains termasuk biologi di dalamnya keberadaan
laboratorium menjadi sangat penting. Pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah
seringkali istilah laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang didalamnya
terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum.(Riandi, 2016).

B. Alat dan Bahan


Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas
laboratorium, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang akan
dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
1. siap untuk dipakai (ready for use)
2. bersih
3. berfungsi dengan baik
4. terkalibrasi
Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual operation).
Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan, dimana buku manual merupakan acuan untuk
perbaikan seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa berada di tempat, karena setiap
kali peralatan dioperasikan ada kemungkinan alat tidak berfungsi dengan baik. Beberapa peralatan
yang dimiliki harus disusun secara teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang disediakan.
Peralatan digunakan untuk melakukan suatu kegiatan pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat
atau studi tertentu. Karenanya alat-alat ini harus selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat
digunakan. Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah
selesai digunakan, harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula. Semua alat-alat ini
sebaiknya diberi penutup (cover) misalnya plastik transparan, terutama bagi alat-alat yang memang
memerlukannya. Alat-alat yang tidak ada penutupnya akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat
merusak alat yang bersangkutan.
a. Alat-alat gelas (Glassware)
Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk
alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat
gelas ini seharusnya disimpan pada lemari khusus.
b. Bahan-bahan kimia
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada
ruang/kamar fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian juga untuk bahan-
bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap yang ada dapat
terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna coklat/gelap, tidak
boleh langsung terkena sinar matahari dan sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.
c. Alat-alat optik
Alat-alat optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab.
Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa berjamur. Jamur ini yang menyebabkan kerusakan
mikroskop. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus ditempatkan dalam kotak yang dilengkapi
dengan silica-gel, dan dalam kondisi yang bersih. Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus
yang kelembabannya terkendali. Lemari tersebut biasanya diberi lampu pijar 15-20 watt, agar ruang
selalu panas sehingga dapat mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat-alat optik lainnya
seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera, microphoto-camera, digital camera, juga dapat
ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab atau dalam alat desiccator.(Suyanta, 2010).

C. Penataan Alat dan Bahan


Penataan (ordering) alat dimaksudkan adalah proses pengaturan alat di laboratorium agar tertata
dengan baik. Dalam menata alat tersebut berkaitan erat dengan keteraturan dalam penyimpanan
(storing) maupun kemudahan dalam pemeliharaan (maintenance). Keteraturan penyimpanan dan
pemeliharaan alat itu, tentu memerlukan cara tertentu agar petugas lab (teknisi dan juru lab) dengan
mudah dan cepat dalam pengambilan alat untuk keperluan kerja lab, juga ada kemudahan dalam
memelihara kualitas dan kuantitasnya. Dengan demikian penataan alat laboratorium bertujuan agar
alat-alat tersebut tersusun secara teratur, indah dipandang (estetis), mudah dan aman dalam
pengambilan dalam arti tidak terhalangi atau mengganggu peralatan lain, terpelihara identitas dan
presisi alat, serta terkontrol jumlahnya dari kehilangan.
Di laboratorium terdapat berbagai macam fasilitas umum lab maupun peralatan. Beberapa contoh
penataan fasilitas umum lab sudah dikemukakan sebelumnya, pada bagian ini pembahasan akan
difokuskan pada penataan alat. Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan di dalam penataan alat
terutama cara penyimpanannya, diantaranya adalah :
1. Fungsi alat, apakah sebagai alat ukur ataukah hanya sebagai penyimpan bahan kimia saja
2. Kualitas alat termasuk kecanggihan dan ketelitian
3. Keperangkatan
4. Nilai/ harga alat
5. Kuantitas alat termasuk kelangkaannya
6. Sifat alat termasuk kepekaan terhadap lingkungan
7. Bahan dasar penyusun alat, dan
8. Bentuk dan ukuran alat
9. Bobot / berat alat

Pada praktisnya untuk melakukan penataan / penyimpanan alat tidak dapat digunakan secara
mutlak menurut fungsinya saja atau menurut kecanggihan dan sifatnya saja. Cara terbaik disarankan
mengkombinasikan di antara aspek-aspek tersebut. Ketidakmutlakan dalam menerapkan aspek di atas
dalam menentukan penataan alat sangat nampak sekali dalam mata pelajaran sains lainnya seperti
fisika dan biologi. Dalam lab fisika penataan alat seringkali dikelompokkan atas dasar jenis percobaan
seperti alat-alat untuk percobaan listrik, magnet, optik, panas, cahaya dst. Demikian untuk alat-alat
biologi dikelompokkan secara khas pula seperti penataan untuk alat-alat genetika, ekologi, fisiologi
juga ada model, awetan, gambar dst. Kembali pada sembilan aspek di atas, suatu alat ada yang
memiliki satu fungsi dan yang multi fungsi. Misalnya buret hanya dapat digunakan untuk mengukur
volume zat cair saja, sedangkan pH meter dapat digunakan untuk mengukur pH dan juga mV.(Ardi
Widiatmoko, 2011).
Penataan terkait erat dengan pengelompokkan, penempatan, penyimpanan dan kemudahan
pemeliharaan dan penggunaannya.
Alat-alat Lab IPA dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, seperti :
a) Alat kegiatan (pengamatan & pengukuran), seperti mikroskop, osiloskop, perangkat alat optik,
kamera, anemometer, kalorimeter, timbangan, dsb;
b) Alat-alat dasar, digunakan untuk melengkapi alat/ perangkat alat percobaan, seperti gelas kimia,
tabung reaksi, pipa kapiler, erlenmeyer, pelubang gabus, selang plastik, dst;
c) Alat peraga seperti Kit IPA, termasuk di dalamnya Model,torso, insektarium dan alat-alat lain yang
serupa, digunakan untuk meragakan suatu struktur suatu obyek IPA;
d) Charta, foto, atau Bagan, digunakan untuk menjelaskan suatu hal;
e) Perkakas dan alat penunjang seperti obeng, alat bor, tang, catut, gunting, soldier, alat pemadam
kebakaran, Jas Lab, Masker, kulkas, dst yang digunakan untuk memperbaiki macam-macam
peralatan lab.(Suyitno, 2016).
Di laboratorium terdapat berbagai macam fasilitas umum lab maupun peralatan. Beberapa hal
yang harus menjadi pertimbangan di dalam penataan alat terutama cara penyimpanannya, diantaranya
adalah :
1. Klasifikasi alat-alat laboratorium
Penataan dan penyimpanan alat-alat laboratorium sangat perlu memperhatikan karakteristik dan
spesifikasinya, baik untuk alasan keamanan alat, kemudahan pencarian dan pemeriksaan, perawatan
dan pemeliharaan, ataupun sekedar kerapihan penyimpanan. Oleh karena itu alat-alat laboratorium
perlu dikelompokkan atau diklasifikasikan berdasarkan kritria yang sesuai dengan tujuan
pengelompokkannya. Kriteria klasifikasi alat-alat laboratrorium antara lain adalah bahan utama
pembuatan, massa, bentuk dan volume, pabrik pembuat, usia pakai, konserp fisika, fungsi atau
kegunaan.
· Bahan pembuatan
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bahan utama
pembuatannya, misalnya kayu, plastik, kaca, logam, dan sebagainya.
· Massa
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bobot dan massanya
apakah alat-alat itu ringan atau berat.
· Bentuk dan volume
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan bentuk dan ukuran
volumenya, misalnya besar, kecil, bola, kubus, balok, silinder dan sebagainya.
· Pabrik pembuat
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan produser atau pabrik
yeng membuatnya. Pengelompokkan ini tentu dengan menyebutkan nama PT pabrik pembuat dan
negaranya.
· Letak dan cara penyimpanannya
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan Letak dan cara
penyimpanan atau cara pemasangannya. Berdasarkan kriteria ini alat dikelompokkan atas alat-alat
permanen dan alat-alat tidak permanen. Alat-alat permanen adalah alat-alat yang terpasang tetap di
bagian tertentu dalam laboratorium, dan alat-alat tidak permanen adalah alat-alat yang dapat disimpan
atau dipindahkan sesuai dengan kebutuhan penggunaannya.

· Usia pakai
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan usia pakainya. Usia
pakai adalah waktu yang menyatakan berapa lama atau berapa kali alat itu dapat digunakan dan
berfungsi dengan baik dan benar sesuai dengan spesifikasinya pembuatannya.

· Konsep fisika
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan konsep atau materi
fisika yang berkaitan dengannya, misalnya alat-alat mekanika, alat-alat listrik-magnet, alat-alat optik
dan sebagainya.

· Fungsi/kegunaan
Berdasarkan kriteria ini alat-alat laboratorium di kelompokkan berdasarkan fungsinya ketika
digunakan apakah sebagai alat ukur yang dapat digunakan pada lebih dari satu percobaan, sebagai satu
set percobaan, sebagai alat peraga, sebagai alat perbaikan, atau yang lainnya. Pada prakteknya sering
terjadi bahwa pengelompokkan alat-alat didasarkan kepada lebih dari satu kriteria. Berikut ini adalah
alat-alat fisika dikelompokkan atas bahan habis, alat permanen, alat tidak permanen dan alat perbaikan.

2. Bahan habis
Bahan habis di laboratorium fisika dapat terdiri dari bahan material dan alat-alat yang umur
pakainya pendek atau bahkan sekali pakai habis, rusak atau tidak dapat dipakai lagi. Bahan habis yang
benar-benar berupa bahan material misalnya adalah timah patri, pita kertas ticker timer, kertas karbon,
benang, tali, paku keling, spirtus, alkohol, minyak tanah, bensin, pelumas dan sebagainya, sedangkan
bahan habis yang berupa alat yang usia pakainya pendek misanya adalah berbagai komponen
elektronika
(a) Hal-hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan bahan habis antara lain adalah sebagai berikut ini.
· Pemilihan alat-alat yang harus dimasukkan ke dalam kelompok bahan habis.
· Pemberian label nama dan atribut yang jelas bagi setiap bahan habis, agar tidak tertukar
penyimpanan dan pemakaiannya.
· Cantumkan catatan, peringatan dan perhatian cara menggunakan yang tepat dan aman.
(b) Penyimpanan yang sesuai dengan karakteristik alat misalnya :
· Tempat penyimpanan yang tepat apakah dari kayu, plastik, kaca dan sebagainya.
· Ditutup dengan rapat.
· Tidak ditutup rapat atau bahkan terbuka
· Suhu dan kelembaban tempat tempat penyimpanan yang sesuai, apakah bahan harus disimpan di
tempat yang kering, di tempat yang sejuk, jangan di tempat yang lembab, atau harus dalam lemari es
atau frezer, di tempat yang terang atau gelap dan sebagainya.
· Bila bahan habis termasuk bahan yang mudah terbakar, maka harus disimpan jauh dari sumber api
atau sumber panas, atau bahkan membelinya jangan terlalu banyak, cukup sekali pakai habis saja.
· Perhatikan batas waktu pemakaian dan kadaluarsanya.
· Pengadaan yang sesuai dengan kebutuhan, jangan sampai berlebihan sehingga sisa menjadi lewat
bataas waktu pemakaian atau kadaluarsa.
· Termasuk ke dalam bahan habis adalah bahan-bahan (padat, cair, gas) pembersih seperti sabun dan
pembersih lantai, cairan khusus pembersih lensa, lap, tissue dan sebagainya.

3. Alat-alat permanent
Alat-alat permanen adalah alat-alat fisika yang disimpan dan sekaligus dipasang (siap digunakan)
di tempat tertentu, tidak harus atau bahkan tidak boleh dipindah-pindahkan tempatnya. Beberapa
contoh alat yang dapat dipandang sebagai alat permanen misalnya adalah:
· Barometer untuk mengukur tekanan udara di laboratorium
· Termometer suhu ruangan untuk mengukuir suhu udara di laboratorium.
· Higrometer untuk mengukur kelembaban udara dalam ruangan laboratorium.
· Bandul fisis.
· Pesawat Ethwood.
· Foto, diagram, gambar, poster, contoh grafik.
· Pembakar bunsen dan instalasi gasnya.
Pemasangan alat-alat permanen hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini :
· Pemilihan tempat yang stategis untuk pengamatan atau bahkan melakukan percobaan.
· Ketepatan posisi pemasangan di tempat yang sudah ditentukan.
· Tempat pemasangan dan alat yang dipasang ditempat itu harus terhindar dari faktor-faktor yang
dapat mengganggu atau merusak alat seperti panas matahari, kelembaban, banyak getaran dan
sebagainya.
· Setiap alat permanen dapat diberi kartu alat yang menjelaskan nama dan atribut-atribut lain alat
tersebut seperti jumlah, spesifikasi, asesoris dan tempat penyimpanannya.(Herowati, 2016).
Langkah Keselamatan Kerja di Laboratorium IPA
1. Gunakan Jas atau Pakaian Pelindung, Sarung Tangan, dan Masker
Sebelumnya, kamu sudah tahu bahwa jas atau pakaian pelindung merupakan pakaian yang wajib kamu
pakai saat mengunjungi laboratorium. Ternyata, pakaian itu saja tidak cukup. Melainkan, kamu harus
melengkapinya dengan menggunakan sarung tangan dan masker. Ketiganya wajib digunakan, untuk melindungi
tubuh dari cipratan bahan kimia yang bisa saja tercecer secara tidak sengaja. Secara, ada banyak bahan kimia
yang kandungannya dapat membahayakan kulit. Seperti, kulit bisa gatal, terasa terbakar, bahkan sampai
melepuh.
2. Dilarang Membawa Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman dapat terkontaminasi oleh virus atau bakteri berbahaya yang ada di dalam
laboratorium. Selain virus atau bakteri, cairan kimia yang warnanya bening bisa saja bercampur dengan
makanan dan minuman. Hal tersebut, tentunya akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Jika sudah
terlanjur, segera lapor ke penanggung jawab laboratorium untuk mendapat penanganan segera.
3. Pastikan Meja Kerja Tetap Bersih
Memastikan meja kerja tetap bersih dan kering adalah langkah keselamatan kerja di laboratorium IPA
selanjutnya. Jika meja kerjamu kotor, jangan langsung menggunakan tangan kosong untuk membersihkannya.
Gunakan kain lap bersih untuk membuang kotoran tersebut. Sebab, bisa saja meja kotor tersebut disebabkan
oleh tumpahan bahan kimia yang seharusnya tidak boleh tersentuh oleh tangan. Jika tidak sengaja tersentuh,
segera cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir.
4. Perhatikan Simbol Keselamatan Kerja
Simbol ini biasanya berguna untuk memberitahu para peneliti, agar bisa mengenal karakteristik bahan
kimia yang digunakan. Sehingga, para peneliti bisa lebih hati-hati pada saat menggunakannya. Beberapa
karakteristik bahan kimia yang bisa kamu temukan di laboratorium adalah bahan mudah terbakar, bahan
memiliki bau yang tajam, bahan beracun, bahan dapat memberi efek iritasi, bahan memberi efek korosif, dan
masih banyak lagi.
5. Gunakan Alat Sesuai dengan Prosedur
Kamu yang baru pertama kali belajar di laboratorium IPA, wajib untuk mengenal setiap alatnya. Jangan
lupa baca kegunaan alat dan bagaimana cara menggunakannya. Supaya, kamu terhindar dari kecelakaan saat
bekerja. Bila ada hal-hal yang kurang kamu pahami, jangan ragu untuk bertanya langsung kepada guru IPA,
yang tentunya sudah lebih ahli dalam menggunakan alat-alat kerja di laboratorium.

Alat Keselamatan Kerja di Laboratorium


Selain menjalankan prosedur keselamatan kerja dengan baik di lab, ada beberapa peralatan yang penting
untuk digunakan ketika berada di laboratorium. Berikut adalah alat-alat tersebut:
1. Lab Coat (Jas Laboratorium)
Pertama, ada jas lab yang berfungsi untuk melindungi pakaian dan kulit dari percikan bahan kima. Jas ini
akan tahan terhadap bahan kimia dan mudah untuk Anda bersihkan.

2. Sarung Tangan Pelindung (Safety Gloves)


Fungsi sarung tangan ini adalah untuk melindungi tangan dari paparan bahan kimia yang berbahaya, suhu
panas, atau cedera fisik lainnya. Beberapa jenis sarung tangan yang umum digunakan adalah sarung tangan
neoprene, nitril, dan lateks.
3. Kacamata Pelindung (Safety Goggles)
Fungsi kaca mata ini adalah untuk melindungi mata dari partikel berbahaya, bahan kimia, ataupun debu
saat di laboratorium. Anda wajib mengenakan kacamata ketika bekerja di lab dengan bahan kimia yang bisa
menghasilkan percikan.
4. Alat Pemadam Api (Fire Extinguisher)
Fungsinya adalah untuk memadamkan kebakaran kecil yang mungkin bisa saja terjadi di laboratorium.
Beberapa jenis pemadam api adalah pemadam api busa, pemadam api CO2, ataupun pemadam api serbuk.
5. Respirator atau Masker
Fungsi masker adalah untuk melindungi pernapasan dari gas berbahaya, uap, serta parktikel debu di
laboratorium. Beberapa jenis masker yang bisa digunakan adalah respirator N95, masker bedah, atau respirator
yang memiliki filter khusus.
6. Stasiun Pencuci Mata (Eyewash Station)
Adanya stasiun pencuci mata berfungsi untuk membilas mata apabila terkena percikan bahan kimia.
Umumnya stasiun pencuci mata berlokasi di dekat area kerja dan bisa digunakan dengan mudah serta cepat.
7. Tanda dan Label Keselamatan Kerja (Safety Signs and Labels)
Terakhir, ada label dan tanda keselamatan yang memiliki fungsi penting untuk memberikan informasi
mengenai prosedur keselamatan dan bahaya yang bisa terjadi di laboratorium. Umumnya label dan tanda ini
akan terletak di wadah-wadah bahan kimia dan memiliki informasi mengenai risiko, sifat bahan kimia, serta
tindakan pertolongan pertama.

D. Daftar Pustaka
Herowati. 2016. “Petunjuk Praktikum PENGELOLAAN LABORATORIUM revisi
kelima”. Sumenep: FKIP Press.
Riandi. 2016. “PENGELOLAAN
LABORATORIUM”. Dalam http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/
196305011988031-RIANDI/Bahan_Kuliah/Pengelolaan_Laboratorium.pdf 29 November.
Suyanta. 2010. “MANAJEMEN OPERASIONAL
LABORATORIUM”. Dalam http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyanta-msi-dr/
manajemen-lab.pdf 29 November.
Suyitno. 2016. “TATA LETAK ALAT LABORATORIUM IPA”. Dalam
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyitno-aloysius-drs-ms/tata-letak-alat-lab.pdf 29
November.
Widiatmoko, Ardi. 2011. “PENATAAN DAN PENGADMINISTRASIAN ALAT DAN BAHAN
LABORATORIUM KIMIA”. Dalam https://ardiwidiatmoko.files.wordpress.com/2011/11/penataan-
laboratorium-kimia1.pdf 29 November

You might also like