Tugas dr Nency
Oleh : Hartomas Bumiharjo
ASA
ASA PS Examples, including, but not limited to:
Classification Definition
ASA I A normal healthy patient Healthy, non-smoking, no or minimal alcohol use
ASA II A patient with mild systemic disease Mild diseases only without substantive functional limitations. Examples include (but not
limited to): current smoker, social alcohol drinker, pregnancy, obesity (30 < BMI < 40), well-
controlled DM/HTN, mild lung disease
ASA III A patient with severe systemic disease Substantive functional limitations; One or more moderate to severe diseases. Examples
include (but not limited to): poorly controlled DM or HTN, COPD, morbid obesity (BMI ≥40),
active hepatitis, alcohol dependence or abuse, implanted pacemaker, moderate reduction of
ejection fraction, ESRD undergoing regularly scheduled dialysis, premature infant PCA < 60
weeks, history (>3 months) of MI, CVA, TIA, or CAD/stents.
ASA IV A patient with severe systemic disease that is a constant threat to life Examples include (but not limited to): recent ( < 3 months) MI, CVA, TIA, or CAD/stents,
ongoing cardiac ischemia or severe valve dysfunction, severe reduction of ejection fraction,
sepsis, DIC, ARD or ESRD not undergoing regularly scheduled dialysis
ASA V A moribund patient who is not expected to survive without the operation Examples include (but not limited to): ruptured abdominal/thoracic aneurysm, massive
trauma, intracranial bleed with mass effect, ischemic bowel in the face of significant cardiac
pathology or multiple organ/system dysfunction
ASA VI A declared brain-dead patient whose organs are being removed for donor purposes
Skor Cormack lehane
Axis orofaring-laringofaring
UkuranUkuran
LMA Masker Berat Badan (Kg) Volume Balon
(mL)
1 <5 4
1,5 5 - 10 7
2 10 – 20 10
2½ 20 – 30 14
3 30 - 50 20
4 50 - 70 30
5 > 70 40
PROPOFOL
Propofol adalah substitusi isopropylphenol
yang digunakan secara intravena.
Berupa cairan berwarna putih seperti susu,
tidak larut dalam air dan bersifat asam.
MEKANISME
KERJA
Propofol relative selektif dalam mengatur reseptor
GABA dan Propofol dianggap memiliki efek sedative
hipnotik melalui interaksinya denghan reseptor
GABA. GABA adalah salah satu neurotransmitter
penghambat di SSP.
Ikatan GABA meningkatkan durasi pembukaan
GABA yang teraktifasi melalui chloride channel
sehingga terjadi hiperpolarisasi dari membrane sel.
FARMAKOKINETIK
• Digunakan secara intravena dan bersifat lipo+lik dimana
98% terikat protein plasma,
• Eliminasi terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak aktif,
waktu paruh propofol diperkirakan berkisar antara 2 – 24
jam.
FARMAKODINAMIK
Pada sistem saraf pusat
Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam
dosis yang kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai
efek analgetik, pada pemberian dosis induksi (2mg /kgBB)
pemulihan kesadaran berlangsung cepat.
Pada sistem kardiovaskular
Dapat menyebakan depresi pada jantung dan pembuluh darah.
Sistem pernafasan
Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal.
DOSIS DAN PENGGUNAAN
Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV. Dosis
pemeliharaan pada anastesi
umum : 100 – 150 µg/kg/min IV (titrate to
eCect)
Sediaan : 20ml/amp yang mengandung
10mg/ml
MIDAZOLAM
Benzodiazepine yang larut air dengan
struktur cincin yang stabil dalam
larutan dan metabolism yang cepat.
FARMAKOKINETIK
• Midazolam diserap cepat dari saluran cerna dan dengan cepat
melalui sawar darah otak.
• Hanya 50% dari obat yang diserap yang akan masuk ke sirkulasi
sistemik karena metabolism porta hepatik yang tinggi.
• Waktu paruh midazolam adalah antara 1-4 jam
DOSIS
0,07-0,1 mg/kgbb IV
Injeksi ampul 5 mg/5ml, 15mg/3 ml, 15
mg/ml
Fentanil
• obat golongan analgesik narkotik yang digunakan sebagai obat
premedikasi dan obat anestesi umum. Obat ini juga digunakan untuk
manajemen nyeri, khususnya pada pasien kanker dan nyeri kronis.
• Fentanil bekerja secara langsung pada sistem saraf pusat dengan cara
berinteraksi dengan reseptor opioid. Fentanil memiliki efek analgesik
yang 100 kali lebih kuat dibandingkan morfin
Farmakodinamik
• Efek pada Sistem Saraf Pusat
Fentanil memiliki efek langsung pada pusat sistem pernapasan di batang otak yang mengakibatkan
berkurangnya respon dari peningkatan tegangan karbondioksida serta stimulasi elektrik yang dapat berujung
pada gagal nafas.
Fentanil normalnya juga menyebabkan miosis (pinpoint pupil), namun apabila terdapat midriasis pada
pengguna opioid maka itu dapat menjadi tanda terjadinya hipoksia pada pasien tersebut
• Efek pada Sistem Kardiovaskular
Fentanil akan menyebabkan vasodilatasi perifer sehingga individu yang mengonsumsi obat ini akan rentan
mengalami hipotensi ortostatik atau sinkop. Manifestasi klinis lain yang dapat dilihat adalah flushing, mata
merah, atau pruritus.
• Efek pada Sistem Endokrin
Penggunaan fentanil dapat meningkatkan sekresi dari growth hormone, prolactin serta insulin dan glukagon.
Selain itu, fentanil juga dapat menghambat sekresi dari hormon adrenokortikotropik, kortisol, dan luteinizing
hormone. Hal tersebut mengakibatkan gangguan pada aksis hypothalamic-pituitary-gonadal yang
dimanifestasikan secara klinis dalam bentuk libido yang rendah, impoten dan disfungsi erektil. [4]
• Efek pada Sistem Imun
Opioid seperti fentanil memiliki efek imunosupresif pada penggunaan jangka panjang.
• Efek pada Saluran Gastrointestinal
Fentanil memiliki efek mengurangi motilitas otot yang dikaitkan dengan meningkatnya tonus otot pada bagian
antrum dari lambung dan duodenum yang dapat menyebabkan konstipasi. Efek opioid lain yang terjadi pada
saluran gastrointestinal adalah berkurangnya sekresi dari pankreas dan biliar, dan peningkatan serum amilase.
Farmakokinetik
• Fentanil merupakan molekul lipofilik dengan koefisien partisi octanol:air yang tinggi yaitu sebesar
816 sehingga fentanyl dapat diabsorpsi melewati membran. Hal ini menyebabkan fentanil dapat
dibuat dalam bentuk sediaan transdermal dan transmukosal.
• Fentanil dalam sediaan parenteral memiliki onset cepat dan segera setelah pemberian, namun
efek analgesik atau depresi nafas tidak terlihat dalam beberapa menit. Efek yang dapat terlihat
melalui pemberian intravena umumnya didapatkan setelah 30 hingga 60 menit, sedangkan
apabila pemberian dilakukan melalui intramuskular maka awitan akan tampak dalam 7 hingga 8
menit dengan durasi selama kurang lebih 2 jam. [3]
• Fentanil dalam sediaan transdermal dan transmukosal memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi
dibandingkan opioid lain, yaitu sebesar 50-90%. Obat ini juga memiliki kemampuan penetrasi
yang baik ke dalam susunan saraf.
• Fentanil didistribusikan melalui plasma darah ke dalam kompartemen yang memiliki vaskularisasi
yang baik seperti jaringan otot, tulang dan lemak. Fentanil juga didistribusikan ke dalam sistem
saraf pusat dan lapisan plasenta. Setelah distribusi ke lokasi-lokasi tersebut, fentanil kemudian
dilepaskan kembali melalui plasma darah yang mengakibatkan eliminasi yang cukup panjang dari
fentanil yaitu berkisar selama 3-8 jam. Proses tersebut juga dapat berujung dengan efek durasi
yang panjang dari fentanil apabila diberikan secara infus berkelanjutan atau bolus multipel.
Dosis
• Tambahan untuk Anestesi Umum
• Sebagai tambahan untuk anestesi umum terdapat 3 dosis pemberian yaitu:
• 1. Dosis rendah: 2 mcg/kgBB, dengan dosis awitan 2 mcg per dosis
• 2. Dosis sedang: 2-20 mcg/kgBB, dengan dosis awitan 10-25 mcg per dosis
• 3. Dosis tinggi: 20-50 mcg/kgBB, dengan dosis awitan 25 mcg hingga satu
setengah dosis awal
• Fentanil diberikan apabila terdapat perubahan terhadap tanda-tanda vital
pasien yang menandakan adanya surgical stress. Pemberian fentanil
parenteral dengan dosis di atas 50 mcg/kgBB perlu dilakukan bersamaan
dengan pemberian oksigen dan muscle relaxant.
Atracurium besilate
• Atracurium besilate , juga dikenal sebagai atracurium besylate ,
adalah obat yang digunakan selain obat lain untuk
memberikan relaksasi otot rangka selama operasi atau ventilasi
mekanis .Ini juga dapat digunakan untuk membantu intubasi
endotrakeal
Farmakodinamik
• Atracurium merupakan neuromuscular blocking agent yang sangat
selektif dan kompetitif (non-depolarising) dengan lama kerja sedang.
Non-depolarising agent bekerja antagonis terhadap neurotransmitter
asetilkolin melalui ikatan reseptor site pada motor-end-plate.
Atracurium dapat digunakan pada berbagai tindakan bedah dan
untuk memfasilitasi ventilasi terkendali. Atracurium tidak mempunyai
efek langsung terhadap tekanan intraocular, dan karena itu dapat
digunakan pada bedah opthalmik
Farmakokinetik
• Waktu paruh eliminasi kira-kira 20 menit. Atracurium diinaktivasi melalui
eliminasi Hoffman, suatu proses non enzimatik yang terjadi pada pH dan
suhu fisiologis, dan melalui hidrolisis ester yang dikatalisis oleh esterase
non-spesifik.
• Eliminasi atracurium tidak tergantung pada fungsi ginjal atau hati. Produk
urai yang utama adalah laudanosine dan alcohol monoquartenary yang
tidak memiliki aktivitas blokade neuromuscular. Alcohol monoquartenary
tersebut secara spontan terdegradasi oleh proses eliminasi Hofmann dan
diekskresi melalui ginjal. Laudanosine diekskresi melalui ginjal dan
dimetabolisme di hati. Waktu paruh laudanosine berkisar 3-6 jam pada
pasien dengan fungsi ginjal dan hati normal, dan sekitar 15 jam pada
pasien gagal ginjal, sedangkan pada pasien gagal ginjal dan hati sekitar 40
jam. Terminasi kerja blokade neuromuscular atracurium tidak tergantung
pada metabolisme ataupun ekskresi hati atau ginjal. Oleh karena itu, lama
kerjanya tidak dipengaruhi oleh gangguan fungsi ginjal, hati, ataupun
peredaran darah