You are on page 1of 8

Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

EMOTIONAL MATURITY OF TEENAGERS WHO


HAVE MOTHERS AS SINGLE PARENTS IN SMA
NEGERI 1 MAIWA ENREKANG
Faradiba1,Ariyanti Saleh2,Akbar Harisa3
1
Mahasiswa KeperawatanFakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar
Staff DosenKeperawatanFakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar
2,3

e-mail : faaraadiba@ymail.com

ABSTRACT

Introduction: The high number of divorce in Indonesia would cause big impacts to children.
Nowadays, family with single parentsused to have specific problems. It iscaused by the
condition that only one person who grow their child. Most of them, teenagerswho loss
theirfathers in their 11 or 15 years old (teenage middle age) felt emotional distress such
us, loneliness, sadness, and lack of attentions. Aims of study is to know about Emotional
Maturity of teenagershaving Mother asSingle Parents in SMA Negeri 1 Maiwa, Enrekang City.
Method: This research is a quantitative study with descriptive analytic design. The Sampling
Method of this research is Total Sampling. With number of sample is 33 teenagers. Result:
this research showed that 93.9% respondents, have a high dependence, 97% of respondents
have a high acceptance of reality, 78.8% respondents have skills in right response, 97% of
respondents have high safe feeling, and 57% of respondents have high adaptation skills, 100%
of respondents have high empathy skill, 66.7% of respondents have high emotion control,
therefore 100% of respondents have positive emotional maturity.Conclusion:Most respondents
have high emotional maturity (dependence, acceptance of reality skill, right response skill, safe
feeling, adaptation skill, empathy skill, and emotion control skill). Therefore, it could be new
information about teenage emotional maturity from those having mothersassingle parents,
and hopefully this studycould help and build maturity of teenagers in SMA Negeri 1 Maiwa,
Enrekang City.
Keywords :emotional maturity, teenagers, single parent

PENDAHULUAN kenakalan remaja, putus sekolah, dan


Keluarga merupakan lembaga mengonsumsi obat-obatan terlarang
pertama dan utama bagi anak, yaitu (Papalia, Old, & Feldman, 2009).
tempat bersosialisasi yang memegang Masa remaja dinyatakan sebagai
peranan penting bagi perkembangan masa transisi atau peralihan karena
kepribadian, dalam keluarga anak remaja belum memperoleh status orang
mengenal cinta kasih, simpati, dewasa tetapi tidak lagi memiliki status
serta mendapatkan bimbingan kanak-kanak. Remaja masih belum
dan pendidikan. Namun, pada mampu menguasai fungsi fisik dan
kenyataannya tidak semua keluarga psikisnya. Masa remaja berlangsung
dapat menjalankan fungsinya dengan dari usia 12 hingga 21 tahun, yang
baik, banyak persoalan yang dihadapi dibagi dalam tiga periode, yaitu remaja
oleh anggota keluarga sehingga memicu awal, remaja tengah, dan remaja akhir.
terjadinya konflik dan berujung pada Masa remaja biasanya dirasakan
perceraian (Lestari, 2014). sebagai masa yang sulit bagi remaja,
Peristiwa perceraian orang tua keluarga, dan lingkungan disekitarnya
menyebabkan sebagian besar remaja (Ari & Asrori, 2011).
memperlihatkan masalah yang Saat ini keluarga dengan orang
seperti masalah akademis, memiliki tua tunggal memiliki serangkaian
harga diri yang rendah dan depresi, masalah khusus. Hal ini disebabkan

38
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

karena hanya ada satu orang tua tahun sebagian besar merasa tidak
yang membesarkan anak. Orang tua mengalami perubahan apa-apa.
tunggal ini menjadi lebih penting bagi Tidak ada satupun diantara mereka
anak dan perkembangannya, karena merasa kehilangan ayah karena pada
orang tua tunggal ini tidak mempunyai masa itu, justru peran ibu yang lebih
pasangan untuk saling menopang dan mendominasi. Sementara itu sebagian
berinteraksi (Ratri, 2006). besar anak yang mengalami ketiadaan
Penelitian yang dilakukan ayah pada usia 5-10 tahun menjadi
Yuniardi dan Djudiyah (2011) bahwa lebih tegar, mandiri, religius dan lebih
pada keluarga single parent, orang tua patuh pada ibu. Sebagian besar remaja
berperan ganda dalammenjalankan yang mengalami ketiadaan ayah pada
kewajibannya sebagai orang tua usia 11 sampai 15 tahun (usia remaja
sehingga dapat menghambat hubungan awal) justru mengalami masalah emosi
antara anak dan orang tua. Orang tua seperti merasa kesepian, kesedihan,
maupun anak biasanya kurang mampu merasa kurang diperhatikan.
beradaptasi dan menerima keadaan Berdasarkan hasil wawancara
tersebut. Keadaan seperti ini dapat yang dilakukan peneliti di Enrekang,
menimbulkan konflik antar anggota jumlah sample yang diperoleh peneliti
keluarga, sehingga memunculkan ialah sebanyak 36 orang di SMA Negeri
masalah baik dari pihak orang tua 1 Maiwa, Enrekang. Data ini diperoleh
maupun anak terutama ketika selama bulan Januari-Agustus 2015.
berusia remaja. Kondisi tersebut dapat Alasan terbesar mengapa perceraian
mempengaruhi perkembangan remaja banyak terjadi di daerah ini ialah
menuju tahap kematangan emosi. kondisi keluarga yang tidak harmonis
Kematangan emosi membuat sehingga orang tua memutuskan untuk
remaja mampu mengembangkan bercerai dan salah satu orang tua
hubungan yang sehat dengan siswa meninggal dunia tetapi pasangan
lingkungan sosialnya. Dalam yang ditinggalkan memilih untuk
hubungan yang sehat ini, remaja akan menghidupi keluarganya sendiri.
dapat mengelola emosinya, berusaha
menyesuaikan diri dengan suasana METODE
orang lain, dan mencari keharmonisan Penelitian ini menggunakan desain
dalam menjalin hubungan dengan penelitian kuantitatif menggunakan
orang lain. Jika kematangan emosi rancangan penelitian deskriptif
belum tercapai, maka remaja analitik, yaitu menggambarkan atau
kemungkinan besar tidak mampu mengungkapkan kejadian yang terjadi
mengendalikan emosinya secara dan dianalisa dalam bentuk tabel dan
efektif yang pada gilirannnya akan didistribusikan serta dianalisa.
menghambat hubungan sosialnya Penelitian ini telah dilaksanakan
dengan orang lain. Seorang remaja di SMA Negeri 1 Maiwa, Kabupaten
yang dewasa secara emosional memiliki Enrekang, teknik pengambilan sampel
kapasitas untuk membuat penyesuaian menggunakan teknik total sampling,
yang efektif dengan dirinya sendiri, yaitu menggunakan semua populasi
anggota keluarganya, teman-teman menjadi sampel penelitian. Responden
sekolahnya dan lingkungan sosial berjumlah 33 remaja yang memilii ibu
sekitarnya (Mahmoudi, 2012). yang berstatus Single Parent.
Penelitian Yuliawati dan Setiawan Instrumen penelitian dalam
(2007) menunjukkan bahwa usia penelitian ini antara lain :
anak pada saat ketiadaan ayahnya 1. Kuesioner demografi yang terdiri
karena meninggal atau perceraian dari identitas responden, antara
menentukan perbedaan kematangan lain : Umur, jenis kelamin, alamat,
emosi anak. Anak yang mengalami kelas, jumlah saudara, posisi anak,
ketiadaan ayah saat usia mereka 0-4 riwayat pernikahan orang tua, usia
39
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

pertama kali ketika menjadi anak HASIL


yang Single Parent. Peneliti mengidentifikasi data
2. Kuesioner yang digunakanadalah untuk menentukan responden
kuesioner mengenai Kematangan yang akan terlibat kemudian
emosi yang diambil berdasarkan memberikan penjelasan penelitian
aspek-aspek kematangan kepada responden. Peneliti meminta
emosi Katkovsky dan Gorlow izin kepada responden dengan
yaitu kemadirian, kemampuan menandatangani lembar persetujuan
menerima kenyataan, responden. Selanjutnya peneliti
kemampuanberadaptasi, memberikan kuesioner pertanyaan
kemampuan merespon dengan yang ada di lembar kuesioner demografi
tepat, merasa aman, kemampuan dan kuesioner kematangan emosi.
berempati, dan kemampuan Pengumpulan data dilakukan dan
menguasai amarah. kemudian data diolah. Hasil penelitian
sebagai berikut :

Karakteristik f (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 13 39.4
Perempuan 20 60.6
Usia
Remaja awal 13 39.4
Remaja tengah 20 60,6
Penyebab Single Parent
Perceraian 16 48.5
Kematian 17 51.5
Posisi Anak dalam
Kelurga
Anak sulung 15 45.5
Anak tengah 10 30.3
Anak bungsu 8 24.2
Jumlah Saudara
Keluarga Kecil 9 27.3
Keluarga Besar 24 72.7
Usia pertama kali
menjadi anak yang
Single Parent
Balita 11 33.3
Kanak-kanak 9 27.3
13 39.4
Remaja Awal
Tabel 1.Distribusi Karakteristik Responden berdasarkan
Karakteristik Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa Kabupaten
Enrekang(n=33)

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan ayah yang mengalami kematian


bahwa sebagian besar responden (51.5%), sebagian besar responden
berjenis kelamin perempuan sebanyak merupakan anak sulung (60.6 %),
20 (60.6%), sebagian besar responden dan mayoritas respoden memiliki
berada dalam fase remaja tengah saudara yang banyak atau berada pada
(16-18 tahun) yaitu sebesar 60.6%, keluarga besar (72.7%). Sebagian besar
sebagian besar responden memiliki responden yang menjadi anak dengan
40
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

Single Parent dengan usia balita dan dengan Single Parent ketika berada
kanak-kanak sebesar (60.6%). Serta pada usia remaja awal (39.4%)
jumlah responden yang menjadi anak

a. Kemandirian
Kemandirian f (%)
Tinggi 31 93.9
Rendah 2 6.1
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemandirian Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa Kabupaten
Enrekang (n = 33)

b. Kemampuan menerima kenyataan


Kemampuan Menerima f (%)
Kenyataan
Tinggi 32 97
Rendah 1 3
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemampuan menerima kenyataan Remaja di SMA Negeri 1
Maiwa Kabupaten Enrekang (n = 33)

c. Kemampuan merespon dengan tepat

Kemampuan merespon f (%)


dengan tepat
Tinggi 26 78.8
Rendah 7 21.2
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemampuan merespon dengan tepat Remaja di SMA Negeri 1
Maiwa Kabupaten Enrekang (n = 33)

d.Merasa aman

Merasa aman f (%)


Tinggi 32 97
Rendah 1 3
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Merasa
aman Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa Kabupaten Enrekang (n
= 33)

d. Kemampuan beradaptasi

Kemampuan f (%)
beradaptasi
Tinggi 19 57.6
Rendah 14 42.4
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemampuan beradaptasi Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa
Kabupaten Enrekang (n = 33)

41
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

e. Kemampuan berempati

Kemampuan berempati f (%)


Tinggi 33 100
Rendah 0 0
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemampuan berempati Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa
Kabupaten Enrekang (n = 33)

f. Kemampuan menguasai amarah


Kemampuan menguasai f (%)
amarah
Tinggi 22 66.7
Rendah 11 33.3
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kemampuan menguasai amarah Remaja di SMA Negeri 1
Maiwa Kabupaten Enrekang (n = 33)

g. Kematangan emosi

Kematangan emosi f (%)


Tinggi 33 100
Rendah 0 0
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Kematangan emosi Remaja di SMA Negeri 1 Maiwa Kabupaten
Enrekang (n = 33)

Tabel 2 menunjukkan menguasi amarah yang tinggi.Tabel 9


bahwamayoritas responden sebanyak menunjukkan bahwa semua responden
31 (93.9%) memiliki gambaran sebanyak 33 (100%) memiliki gambaran
kemandirian yang tinggi.Tabel 3 kematangan emosi yang tinggi.
menunjukkan bahwa mayoritas
responden sebanyak 32 (97%) memiliki PEMBAHASAN
gambaran kemampuan menerima Hasil penelitian yang telah
kenyataan yang tinggi. diuraikan, membahas secara sistematis
Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil dari data univariat tentang
mayoritas responden sebanyak gambaran kematangan emosional
26 (78.8%) memiliki gambaran remaja yang memiliki ibu yang bersatus
kemampuan merespon dengan tepat single parent di SMA Negeri 1 Maiwa
yang tinggi.Tabel 5 menunjukkan Kabupaten Enrekang.
bahwa mayoritas responden sebanyak a. Kemandirian
32 (97%) memiliki gambaran merasa Kemandirian secara emosional
aman yang tinggi.Tabel 6 menunjukkan adalah kemandirian yang berhubungan
bahwa sebagian besar responden dengan perubahan hubungan remaja
sebanyak 19 (57.6%) memiliki dengan orang tua dimana remaja
gambaran kemampuan beradaptasi mengembangkan perasaan individusi
yang tinggi.Tabel 7 menunjukkan dan berusaha melepaskan diri
bahwa semua responden sebanyak dari ikatan kekanak-kanakan dan
33 ( 1 0 0 %) memilik i gamb ar a n ketergantungan terhadap orang tua
kemampuan berempati yang tinggi. (Steinberg, 2002).
Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian Menurut peneliti, penyebab
besar responden sebanyak 22 (66.7%) kemandirian remaja yang memiliki
memiliki gambaran kemampuan orang tua single parent lebih tinggi
42
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

dibandingkan dengan remaja yang sering disebut dengan resiliensi adalah


memiliki orang tua lengkap karena suatu kemampuan yang dimiliki oleh
remaja dengan orang tua single parent individu, dan dengan kemampuan
ini lebih dituntut untuk melaksanakan tersebut individu mampu untuk
tugas-tugasnya sendiri dan tidak bertahan dan berkembang secara sehat
dibiasakan untuk tergantung dengan dan serta menjalani kehidupan secara
orang lain, sehingga anak lebih positif dalam situasi yang kurang
bertanggung jawab terhadap diri menguntungkan dan penuh dengan
mereka sendiri. tekanan (Hildayani, 2007).
b. Kemampuan menerima kenyataan f. Kemampuan berempati
Penelitian yang dilakukan oleh Kemampuan berempati
Lestari (2014) bahwa kemampuan sangat penting dimiliki oleh remaja
menerima kenyataan yang dipilih dengan single parent sehingga dapat
oleh remaja dan strategi coping terciptanya komunikasi antar pribadi
yang tepat untuk menyelesaikan baik dengan ibu maupun dengan orang
masalah yang dihadapi remaja dalam lain (Putri & Kurniadi, 2015).
kasus kehilangan salah satu orang g. Kemampuan menguasai amarah
tua mereka akan meningkatkan Pada tabel 8 didapatkan bahwa
penerimaan diri remaja tersebut, sebagian besar responden memiliki
maka remaja akan menerima segala gambaran kemampuan menguasai
keadaan dan perubahan yang terjadi amarah yang tinggi yaitu sebanyak 22
dalam keluarganya, remaja tidak responden (66,7%) walaupun terdapat
hanya pasrah menerima keadaannya 11 responden (33,3%) yang memiliki
dan berdiam diri dengan keadaan kemampuan menguasai amarah yang
yang dialaminya, maka remaja akan rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh
berusaha untuk menerima keadaan kurangnya salah satu figur orang
yang berubah dalam keluarganya dan tua menyebabkan anak menjadi
menjalani dengan ikhlas dan nyaman kekurangan kasih sayang dan kurang
dengan kehidupannya sekarang. mendapatkan kehangatan dari figur
c. Kemampuan merespon dengan sang ayah sehingga remaja terkadang
tepat menjadi sulit untuk mengendalikan
Remaja dengan orang tua single amarahnya.
parent memiliki reaksi atau merespon h. Kematangan Emosi
setiap tingkah laku yang menunjukkan Dalam penelitian ini didapatkan
perhatian, mereka akan merespon bahwa seluruh responden memiliki
persoalan yang dihadapinya serta lebih kematangan emosi yang tinggi. Adapun
suka menghindari konflik (Zahroh, hasil penelitian ini dimana mayoritas
2005). responden adalah remaja perempuan
d. Merasa aman memiliki kematangan emosi yang
Pada saat memasuki masa tinggi. Hal ini sesuai dengan teori
remaja, remaja akan memasuki tahap yang dikemukakan oleh Santrock
persiapan, dimana terjadi proses (2003) yang mengatakan bahwa laki-
pemisahan remaja terhadap peraturan laki dikenal cenderung lebih berkuasa
orang tua sehingga pola pikir mereka daripada perempuan, hal ini membuat
menjadi berkembang. Saat remaja lela k i cen d er un g m en a m p ilka n
mencapai tahap kemandirian, mereka kemaskulinannya sehingga ia kurang
akan mempunyai perasaan aman, hal mampu mengekspresikan emosinya.
ini akan mendorong remaja untuk Sedangkan, perempuan lebih mampu
bereksplorasi dan memusatkan tenaga untuk mengekspresikan emosinya
pada tugas serta pemecahan masalah sehingga ia memiliki kematangan emosi
(Safaria, 2006). yang tinggi dibandingkan laki-laki.
e. Kemampuan beradaptasi Dalam penelitian ini kebanyakan
Kemampuan beradaptasi yang responden mengalami peristiwa
43
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

kehilangan ayah (Single Parent) berada KESIMPULAN


pada fase balita dan kanak-kanak. Hasil penelitian yang telah
Hasil penelitian yang dilakukan dilakukan tentang gambaran
oleh Yuliawati dan Setiawan (2007) kematangan emosional remaja
menunjukkan bahwa usia anak yang memiliki ibu yang berstatus
pada saat ketiadaan ayahnya karena single parent di SMA Negeri 1 Maiwa
meninggal atau perceraian menentukan Kabupaten Enrekang memiliki
perbedaan kematangan emosi anak. gambaran kemandirian yang
Anak yang mengalami ketiadaan ayah tinggi yaitu 31 responden (93.9%),
saat usia mereka 0-4 tahun (balita) kemampuan menerima kenyataan yang
sebagian besar merasa tidak mengalami tinggi 32 responden (97%), kemampuan
perubahan apa-apa. Tidak ada satupun merespon dengan tepat yang tinggi
diantara mereka merasa kehilangan 26 responden (78.8%), merasa aman
ayah karena pada masa itu, justru yang tinggi 32responden (97%),
peran ibu yang lebih mendominasi. kemampuanberadaptasi yang tinggi
Sementara itu sebagian besar anak 19 responden (57.6%), kemampuan
yang mengalami ketiadaan ayah pada berempati yang tinggi 33 responden
usia 5-10 tahun (kanak-kanak) menjadi (100%), kemampuan menguasai
lebih tegar, mandiri, religius dan lebih amarah yang tinggi 22 responden
patuh pada ibu. Sebagian besar remaja (66.7%) dan kematangan emosi yang
yang mengalami ketiadaan ayah pada tinggi 33 responden (100%). Saran
usia 11 sampai 15 tahun (usia remaja penelitianiniantaralain :
awal) justru mengalami masalah emosi a. Diharapkan adanya pengembangan
seperti merasa kesepian, kesedihan, dan peningkatan pendidikan
merasa kurang diperhatikan. Jadi, mengenai kematangan emosional
dapat disimpulkan bahwa kebanyakan kepada remaja.
responden memiliki kematangan emosi b. Diharapkan membentuk sebuah
yang tinggi. layanan bimbingan dan konseling
Sebagian besar responden untuk membantu remaja dalam
mengalami peristiwa anak yang Single mengoptimalkan emosi yang
Parent karena ayahnya meninggal dimilikinya.
dunia. Menurut peneliti, bahwa c. D i h a r a p k a n u n t u k p e n e l i t i
dampak psikologis yang ditimbulkan selanjutnya menggunakan
oleh remaja yang mengalami perceraian metode penelitian kualitatif yaitu
kedua orang tuanya memiliki dampak wawancara terstruktur kepada
yang besar dibandingkan dengan remaja agar memperoleh hasil yang
remaja yang mengalami ketiadaan ayah lebih akurat.
karena kematian. Hal ini disebabkan
karena remaja yang mengalami DAFTAR PUSTAKA
kematian ayah akan lebih cenderung Ari, M., & Asrori. (2011). Psikologi remaja-
menerima keadaaan tersebut karena perkembangan peserta didik (7th ed.).
hal itu merupakan takdir dari Allah Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hildayani, R. (2007). Penanganan anak
SWT yang pasti akan dialami oleh berkelainan (anak dengan kebutuhan
manusia. Sedangkan, pada remaja khusus) (1st ed.). Jakarta: Universitas
yang mengalami perceraian akan Terbuka.
memiliki dampak psikologis yang lebih Lestari, D. W. (2014). Penerimaan diri dan
strategi kopingpada remaja korban
berat yang akan terus dirasakan hingga
perceraian orang tua. eJournal Psikologi,
dewasa nanti. Dampak psikologis II(1), 1.
tersebut dapat berupa rasa kurang Mahmoudi, A. (2012, Oktober 5). Emotional
percaya diri, rasa marah, kesedihan, maturity and adjustment level of college
dan rasa bersalah. students education. resjournals, II(1), 18-
19.

44
Indonesian Contemporary Nursing Journal, 1(1), 38-45

Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman, R. D. Steinberg, L. (2002). Adolescence (6th ed.). New
(2009). Human development. New York: York: MC Graw Hill.
Mc Graw Hill. Yuliawati, L., &Setiawan, J.L. (2007).Perbedaan
Putri, S. M., & Kurniadi, O. (2015). Komunikasi kecerdasan emosional remaja ditinjau
antar pribadi pada orang tua tunggal dari keberadaan ayah.Jurnal Psikologi,
dengan anak remajanya. 6. 1-14.
Ratri, S. A. (2006). Melatih anak mandiri. Yuniardi, M. S., & Djudiyah. (2011). Model
Yogyakarta: Kanisius. pengembangan konsep diri melalui
Retnowati, Y. (2008). Pola komunikasi orang tua support group therapy: upaya
tunggal dalam membentuk kemandirian meminimalkan trauma psikis remaja dari
anak. Jurnal Ilmu Komunikasi, VI, 200. keluarga single parent. Jurnal Psikologi
Santrock, J. W. (2003). Perkembangan remaja Proyeksi, VI(1), 16-26.
(6th ed.). Jakarta: Erlangga.

45