0% found this document useful (0 votes)
53 views37 pages

Desain Sistem Produksi Modular MPS

Modul MPS

Uploaded by

alex
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
53 views37 pages

Desain Sistem Produksi Modular MPS

Modul MPS

Uploaded by

alex
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

BAHAN AJAR

SMK IPT KARANGPANAS

TEKNIK MEKATRONIKA

MODULAR PRODUCTION SYSTEM ( MPS )

OLEH: YOSEF TENDY HERU NUGROHO,S.T,Gr

1
PENDAHULUAN

A. Peta Kompetensi
Gambar 1 adalah struktur standar kompetensi guru program keahlian teknik
elektronika.

Gambar 1 struktur SKG teknik elektronika

Sedangkan peta kompetensi paket keahlian mekatronika ditunjukkan oleh


diagram gambar 2.

Gambar 2 peta kompetensi teknik mekatronika

2
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
DESAIN MODULAR PRODUCTION SYSTEM

A. Tujuan

Setelah pelatihan selesai peserta diklat dapat merencanakan kegiatan proyek


Modular Production System (MPS) mulai dari penyiapan komponen sampai
dengan komisioning.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Menemukan prosedur perencanaan, perakitan, pemrograman dan pengujian


sistem robotika.

C. Uraian Materi

1.1 Pengertian MPS

Modular Production System yang disingkat MPS adalah sebuah unit stasiun yang
terdiri dari beberapa aktuator seperti silinder, motor, gripper atau suction cup
yang dibangkitkan oleh vacuum generator, lengkap dengan komponen kontrolnya
seperti tombol tekan, sensor-sensor dan kontrolernya. MPS dapat digunakan
sebagai media dalam pelatihan. Materi pelatihannya meliputi bidang:

a. Mekanik :
Kegiatannya merakit konstruksi mekanik dari suatu stasiun.
b. Pneumatik:
Kegiatannya meliputi penyambungan dari katup pneumatik ke aktuator linier,
putar dan vakum.
c. Kelistrikan:
Kegiatannya meliputi pengawatan yang benar dari komponen-komponen
listrik.
d. Sensor:

3
Kegiatannya memilih sensor yang tepat dan penggunaan yang benar dari limit
switch serta settingnya. Ada dua jenis PNP dan NPN. Sensor PNP
mengeluarkan sinyal positif pada terminal keluarannya, sedangkan NPN
mengeluarkan sinyal negatif pada terminal keluarannya. Pada MPS ini sensor
PNP yang digunakan.
e. Programmable Logic Controller (PLC) :
Kegiatannya meliputi pemrograman dan penggunaan sebuah PLC untuk
mengoperasikan stasiun yang dikendalikannya.

1.2 Konstruksi MPS

a. Macam-macam Stasiun
Setiap MPS terdiri dari satu jenis stasiun, kontroler, panel kontrol dan troley.
Setiap stasiun terdiri dari beberapa modul aktuator yang dilengkapi dengan
sensor-sensor dan katup solenoid. Komponen aktuator, sensor dan katup
solenoid dirakit pada papan profil berukuran 700 mm x 350 mm . MPS
dipergunakan dengan menggunakan PLC sebagai unit pengendalinya. PLC yang
dipergunakan dapat memakai dari beberapa produsen dengan jumlah input
output yang sesuai. Perintah ke PLC menggunakan panel kontrol yang terdiri
dari tombol START, RESET, STOP dan switch AUTO-MAN. Selain itu panel
kontrol dilengkapi dengan lampu START, RESET dan 2 buah lampu tanda. Untuk
menggabungkan stasiun, PLC dan panel kontrol menggunakan meja troley
beroda yang dapat dipindahkan dengan mudah. Gambar 1.1 adalah gambar dari
beberapa jenis stasiun, PLC, panel kontrol dan troley.

Distribusi Testing Handling Sorting

Macam-
macam
Stasiun

PLC
Board

4
Panel
Kontrol

Troley

Gambar 1.1 Komponen-komponen MPS

Gambar 1.2 adalah beberapa MPS dan fungsinya.

STASIUN GAMBAR FUNGSI


Distributing  Mengeluarkan benda kerja dari
magazine.

 Memindahkan benda ke stasiun


lain.

Testing  Mengenali bahan


 Kontrol kualitas (ketepatan
ukuran)

Handling  Mentransfer benda kerja dari


sebuah stasiun ke stasiun lain
atau ke peluncur.

Sorting  Sorting benda kerja yang sesuai


dengan bahan logam atau non
logam
atau
 Sorting benda kerja yang sesuai
dengan warna merah dan hitam.

Gambar 1.2 Macam-macam MPS

5
b. Interface ke PLC
Interface antara stasiun (misal stasiun distribusi) dan kontrol terkait (misalnya unit
PLC Festo) terdiri dari kabel I/O standar. Kabel ini memungkinkan sambungan
dari 8 sensor, 8 aktuator dan 24V serta 0V ke papan PLC. Kabel I/O dapat
dihubungkan dengan terminal I/O stasiun.

Gambar 1.3 Sambungan stasiun dan unit pengendali


c. Sistem
Beberapa MPS dapat digabungkan menjadi MPS plus. MPS plus membentuk
sistem melalui penyambungan dari beberapa jenis stasiun satu sama lain seperti
terlihat pada gambar 1.4.

Distributing - Sorting Distributing - Testing Distributing-Testing-Sorting

Gambar 1.4 MPS Plus


1.3 Tahapan Perancangan
Tahapan proyek untuk membangun dan mengoperasikan MPS dapat ditunjukkan
dan diajarkan dalam bentuk pelatihan proyek, seperti :
Perencanaan (Planning), Perakitan (Assembly), Pemrograman (Programming),
Komisioning (Commissioning), Pengoperasian (Operation), Perawatan
(Maintenance) dan Pencarikesalahan (Fault finding).

a. Desain dan Konstruksi


Diskripsi fungsi mesin perlu diketahui lebih dahulu. Dari diskripsi fungsi mesin
dapat digambarkan rangkaian pneumatik dan elektriknya. Dalam konteks industri
simulasi, aspek-aspek seperti keamanan, toleransi, komunikasi teknis, dan lain
lain perlu dipertimbangkan dalam desain.

6
Berikut ini adalah contoh diskripsi fungsi dari stasiun sorting.
1). Kondisi START
Benda harus ada di ujung konveyor (hitam, merah atau silver)
2). Kondisi INISIAL/AWAL
Silinder stopper maju, Separator 1 mundur, Separator 2 mundur ,
Konveyor motor stop
3) Urutan Kerja
 Benda dideteksi
 Konveyor Motor On
 Identifikasi warna benda (dalam hal ini ukuran tinggi benda)
Benda yang dideteksi berwarna :
Hitam:
 Stopper Mundur, Benda di salurkan ke slide paling akhir
 Kembali ke step awal
Silver:
 Separator 2 maju, Stopper mundur, Benda disalurkan ke slide tengah
 Kembali ke step awal

Merah:

 Separator 1 maju, Stopper mundur, Benda disalurkan ke slide tengah


 Kembali ke step awal
Gambar yang harus dipersiapkan untuk membangun stasiun sorting seperti pada
gambar 1.5.

Gambar rangkaian pneumatik

7
Gambar rangkaian elektrik

Gambar 1.5 Gambar rangkaian pneumatik dan elektrik

Sedangkan aspek-aspek yang harus dipertimbangkan untuk keselamatan


peserta sendiri adalah:
1) Umum :
 Peserta harus diawasi oleh instruktur pada saat bekerja di stasiun.
 Amati data pada data sheet untuk setiap komponen yang diberikan dalam
dokumentasi teknis, khususnya nasehat tentang keselamatan!

8
2) Sistem Kelistrikan :
 Sambungan kabel boleh dilepas hanya bila sumber tegangan telah
diputuskan!
 Gunakan tegangan ekstra rendah sampai dengan 24 V DC.

3) Sistem Pneumatik :
 Tekanan udara jangan melebihi 8 bar (800 kPa).
 Jangan mengaktifkan udara bertekanan sampai semua pipa-pipa/tubing
telah tersambung dengan aman.
 Perhatian! Hati-hati ketika menghidupkan udara bertekanan. Silinder
bisa maju atau mundur dengan segera setelah udara bertekanan
diaktifkan.

4) Sistem Mekanik :
 Pasang semua komponen dengan aman pada papan profil.
 Jangan ada campur tangan secara manual selama menjalankan
stasiun.

b. Perakitan dan Komisioning


Semua komponen yang akan dirakit dikumpulkan di atas meja. Setelah itu baru
dilakukan perakitan komponen seperti modul konveyor, sensor, katup solenoid,
kanal sirip dan profil omega di atas papan profil sesuai gambar desainnya.
Setelah itu lakukan pemasangan tubing dan penyambungan kabel-kabel sensor,
solenoid ke terminal I/O.

Komponen Pemasangan komponen

Pemasangan tubing dan penyambungan kabel

Gambar 1.6 Perakitan MPS

9
Setelah semua komponen terpasang dan tubing serta kabel tersambung satu
sama lain, maka tahap selanjutnya melakukan komisioning. Komisioning
dilakukan dengan menggunakan Simubox yang dihubungkan ke terminal I/O
MPS Sorting. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi I/O stasiun. Setelah
I/O teridentifikasi dengan baik maka PLC disambungkan ke I/O stasiun dan ke
I/O panel kontrol.

Simubox

Gambar 1.7 Pengujian I/O

c. Pemrograman Dengan Programmable Logic Controller (PLC)


1) Pengenalan PLC
Programmable logic controller (PLC) yang pertama telah dikembangkan oleh
para insinyur General Motor pada tahun 1968, saat mana perusahaan
menemukan jalan buntu untuk mencari pengganti sistem kontrol relai yang
sangat komplek. Sistem kontrol PLC harus memenuhi beberapa persyaratan
yang sekaligus merupakan keuntungannya, yaitu sebagai berikut:
a) Pemrograman sederhana.
b) Perubahan program tanpa harus mengubah sistem (tidak ada perubah-an
instalasi didalamnya).
c) Lebih kecil, lebih murah dan lebih stabil dari pada hubungan sistem
kontrol relai.
d) Sederhana, biaya perawatan murah.

Perkembangan berikutnya difokuskan di dalam sistem yang memungkinkan


sambungan dilakukan secara sederhana untuk sinyal-sinyal biner. Ketentuan-
ketentuan seperti bagaimana sinyal-sinyal dihubungkan adalah menjadi bagian
tugas di dalam program kontrol. Dengan sistem kontrol baru ini menjadi mungkin
untuk pertama kali merencanakan sinyal-sinyal pada layar dan menyimpan di
dalam penyimpan elektronik.

10
Sejak itu, tiga dekade telah dilewati, hingga kemajuan yang sangat pesat telah
dilakukan di dalam pengembangan elektronik mikro, seperti halnya pada PLC.
Misalnya, bagaimana mengoptimalkan program tanpa harus khawatir dengan
kapasitas memori yang terbatas. Sekarang hal ini menjadi sesuatu yang sangat
mudah untuk diatasi.

Selain itu jangkauan fungsinya telah berkembang sangat pesat. Lima belas tahun
yang lalu, visualisasi proses, dan proses analog dengan menggunakan PLC
sebagai kontrol dianggap sebagai suatu impian. Sekarang, pendukung dari
fungsi-fungsi ini telah menyatu dengan banyak PLC.

2) Prosedur Pembuatan Pemrograman PLC


Penyelesaian masalah kontrol dengan menggunakan PLC dilakukan mengikuti
tahapan sebagai berikut.
Gambaran masalah, Daftar
Gambaran Masalah:
alokasi, Pemrograman dan
Transmisi ke sistem kontrol.  menjabarkan masalah kontrol secara
detail dan tepat. Gambaran masalah
Tugas Pengawasan
tersebut seperti skema posisi, skema
sekuensial, diagram rangkaian dan
Gambaran Masalah
tabel kebenaran yang menerangkan
hubungan masukkan dan keluaran.
Daftar Alokasi (Allocation List):
Daftar Alokasi  berisi tentang kondisi-kondisi program
termasuk identitas dan nama singkat
Pemrograman yang digunakan oleh masukkan dan
STL,LDR
keluaran sesuai dengan alamat dari
sinyal tersebut.
Transmisi ke sistem
kontrol Pemrograman:
 membuat program yang sesuai dengan
PLC terprogram sekuen dengan logika mengunakan
bahasa pemrograman PLC, STL
Commissioning maupun LAD.
Transmisi ke sistem kontrol:

Gambar 1.8 Tahapan  memindahkan program kedalam PLC,


pemrograman sebagai kontrol sistem.

11
3) Bahasa Pemrograman
Dalam pemrograman sebuah PLC terdapat beberapa bahasa pemrograman
yang umum dipakai, diantaranya Ladder Diagram (LAD) dan Statement List
(STL). Tiap-tiap bahasa memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Perlu
diperhatikan bahwa dalam mengambil keputusan dalam pemakaian bahasa
pemrograman tergantung pada kondisi-kondisi tertentu.
 Tidak setiap PLC dapat diprogram menggunakan beberapa bahasa
pemrograman.
 Definisi program mungkin bisa dipakai untuk pemrograman dengan bahasa
tertentu saja.
 Programmer tidak begitu kenal dengan bahasa pemrograman.
 Karenanya sedapat mungkin perlu menguasai program PLC dalam
berbagai bahasa pemrograman.
4) Program Stasiun Sorting
Berikut ini adalah flowchart program stasiun sorting

12
Gambar 1.9 Flowchart program stasiun sorting

d. Pengoperasian dan Tes


Komponen-komponen yang diperlukan untuk mengoperasikan stasiun adalah
sebagai berikut:
 Stasiun yang telah dirakit dan disetel,
 Panel kontrol yang berisi tombol-tombol,
 Panel PLC yang berisi PLC yang telah tersambung I/Onya dengan kabel
penghubung.
 Unit catu daya 24V DC 5A
 Suplai udara bertekanan dengan tekanan 6 bar, kapasitas sedotnya 50 l/min.
 Personal Computer (PC) dengan sofware PLCnya yang telah terinstal.

1) Pengecekan visual
Sebelum stasiun dijalankan atau dioperasikan perlu dilakukan pengecekan
awal yaitu pengecekan secara visual dengan melihat kelengkapan awal
apakah semua komponen telah terpasang dan siap dioperasikan.

13
Pengecekan visual ini diperlukan untuk memeriksa sambungan elektrik,
pneumatik dan komponen mekanik.
Pengecekan sambungan elektrik untuk memastikan semua sambungan
elektrik telah tersambung dengan baik dan terhubung ke sumber tegangan
yang benar. Pengecekan sambungan pneumatik untuk memastikan kondisi
dan instalasi tubing dari sambungan pneumatik telah baik. Pengecekan
komponen mekanik untuk mengetahui apakah ada yang rusak (karat, lepas,
longkar dsb).
Selain itu juga untuk mengetahui apakah semua komponen, tubing, kabel
telah ditandai sehingga apabila sambungan-sambungan dilepas akan mudah
untuk dikembalikan ke posisi semula.

2) Penyambungan Kabel
 Masukkan steker kabel panel PLC ke kotak terminal I/O di modul stasiun.
 Masukkan steker kabel panel PLC ke kotak terminal I/O panel kontrol,
 Masukkan banana plug ke unit catu daya 24VDC,
 Sambung dari PC ke PLC melalui kabel pemrograman.

3) Penyambungan Pneumatik
 Amati data tekniknya.
 Sambung suplai udara bertekanan ke unit pelayanan udara.
 Atur regulator unit pelayanan udara pada tekanan 6 bar.
4) Pemberian Suplai Elektrik
 Stasiun distribusi disuplai dengan tegangan 24V melalui unit catu daya
24VDC 5A.
 Tegangan semua sistem dijalankan dari panel PLC.
5) Download Program PLC
 Sambung PC dan PLC menggunakan kabel pemrograman
 Switch ”on” unit catu daya dan Switch ”on” suplai udara bertekanan
 Lepas switch ”EMERGENCY STOP” (jika tersedia)
 Reset keseluruhan memory PLC
 Switch CPU di posisi “STOP”
 Start software program PLC
 Download program yang telah ditulis ke PLC

14
 Switch CPU di posisi “RUN”
6) Pengoperasian
Untuk mengoperasikan stasiun, ikutilah langkah-langkah sebagai berikut :
 Masukkan benda kerja ke konveyor awal (untuk stasiun sorting).
 Periksa tegangan catu daya elektrik dan udara bertekanan.
 Tekan tombol START, stasiun bekerja sesuai urutan kerjanya.

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Amati stasiun berikut ini.

Gambar 1.10 Stasiun distribusi-testing-sortir

2. Dari gambar 1.10 tersebut, bagaimana cara kerja masing-masing stasiun.


(lihat di uraian materi).

Dengan melihat blok di atas, jelaskan aliran benda dari stasiun distribusi ke
sorting!
3. Amati konstruksi salah satu stasiun (sorting). Lihat di uraian materi.
4. Untuk membangun salah satu stasiun diperlukan tahapan sebagai berikut:

Pelajari di uraian materi kemudian jelaskan kegiatan di setiap tahapan.


5. Bagaimana prosedur pemrograman PLC? Pelajari di uraian materi.

15
6. Perhatikan gambar rangkaian dan flow chart stasiun sorting. Bagaimana cara
kerja stasiun sorting?

E. Latihan/Kasus/Tugas

1. Bagaimana aliran benda kerja dari stasiun distribusi ke stasiun sorting!


2. Jelaskan prosedur membangun suatu MPS!
3. Tuliskan prosedur pemrograman PLC!

F. Rangkuman

1. Modular Production System (MPS) adalah stasiun terdiri dari komponen-


komponen industri berupa komponen pneumatik dan elektrik dengan
pengendali PLC yang diarahkan untuk pelatihan kejuruan yang berorientasi ke
industri.

2. Kompetensi yang didapat dari pelatihan yang menggunakan MPS adalah


terampil merakit, menyambung pneumatik dan elektrik MPS, memprogram
dan mengoperasikan salah satu MPS.

3. Tahapan membangun suatu MPS dimulai dari desain dan konstruksi MPS,
merakit dan komisioning, pemrograman dengan menggunakan PLC serta
mengoperasikan MPS untuk uji coba kebenaran rangkaian.

4. MPS-MPS terpisah dapat digabungkan menjadi sebuah MPS plus dengan


susunan seperti Stasiun Distribusi – Testing dan Sorting.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Setelah anda menyelesaikan jawaban dari latihan dan membandingkan


dengan kunci jawaban, maka jika jawaban anda sudah benar dapat
melanjutkan ke modul berikutnya tetapi jika jawaban anda masih banyak yang
salah maka dianjurkan untuk mengulang mempelajari modul ini.

2. Apa yang anda temui dari mempelajari materi kegiatan pembelajaran ini?
Berilah komentar, masukan dan tindak lanjuti modul Desain MPS ini!

………………………………………………………………………………………

16
………………………………………………………………………………………......
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................

………………………………………………………………………………………......
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................

………………………………………………………………………………………......
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................

………………………………………………………………………………………......
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................
.............................................................................................................................

17
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

STASIUN DISTRIBUSI

A. Tujuan

Setelah selesai mempelajari modul ini peserta dapat:


1. menjelaskan konstruksi MPS Stasiun Distribusi
2. mengidentifikasi komponen-komponen dengan bantuan data teknisnya.
3. membaca gambar rangkaian pneumatik dan elektrik dari MPS Stasiun
Distribusi .
4. menjelaskan urutan kerja suatu MPS Stasiun Distribusi

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Menemukan prosedur perencanaan, perakitan, pemrograman dan pengujian


sistem robotika.

C. Uraian Materi

2.1 Gambaran Umum


Stasiun Distribusi adalah salah satu jenis
MPS yang merupakan stasiun pensuplai
benda kerja. Stasiun pemberi benda kerja
didefinisikan sebagai unit penyimpan benda
kerja dan menyalurkan benda kerja. Unit
pensuplai benda yang konvensional,
misalnya: magazine dengan peralatan
pemisah, perangkat bergetar, konveyor
luncur, peloncat dengan peralatan pemisah.
Gambar 2.1 Stasiun distribusi

18
Benda kerja konvensional yang ditangani oleh peralatan pensuplai benda kerja,
misalnya: pelapis plat, pembentukan benda plastik, dan benda yang ditempa
atau diubah bentuknya.
Tujuan Stasiun Distribusi adalah :
a. mengeluarkan benda kerja dari tempatnya (magazine)
b. memindah benda kerja yang tersedia untuk proses selanjutnya melalui alat
pemegang benda kerja seperti Gripper atau penghisap (vakum)
Stasiun Distribusi terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut ini :
a. Plat Profil
b. Unit papan PLC dengan panel kontrol
c. Modul Stack Magazine
d. Modul Transfer (Changer)

2.2 Modul Pensuplai Benda Kerja (Stack Magazine)

Modul stack magazine memisah benda kerja dari magazine. Benda kerja
dimasukkan dari atas cerobong . Benda kerja dapat ditumpuk di dalam cerobong
magazine maksimum 4 buah. Silinder kerja ganda mendorong benda kerja di
tumpukan paling bawah dari magazine sampai pemberhentian terakhir. Posisi ini
merupakan titik temu ke modul berikutnya (misalnya modul Changer).

Sensor optik/Induktif
Proximity deteksi benda

Kontrol Kecepatan
aliran satu arah

Cerobong magazine

Gambar 2.2 Modul stack magazine

19
Benda yang tersedia di dalam cerobong magazine dideteksi oleh sensor optik
atau inductif proximity. Posisi silinder “Ejecting” disensor secara elektrik melalui
sensor proximiti inductif. Kecepatan maju dan mundur dari silinder “Ejecting”
dapat diatur melalui katup kontrol aliran satu arah.

2.3 Modul Changer (Transfer)


Modul Changer adalah piranti handling pneumatik. Benda kerja dipegang dengan
gripper atau menggunakan penghisap dan dipindahkan oleh silinder geser atau
putar. Daerah ayunan dapat diatur antara 0° dan 180° secara mekanik untuk
selinder putar. Posisi akhir silinder dideteksi dengan menggunakan limit switch
elektrik (microswitch). Sedangkan untuk selinder geser berupa gerakan vertikal
90° dan Horisontal 180°. Posisi akhir silinder dideteksi dengan menggunakan
sensor Inductif Proximity switch. Posisi akhir silinder putar maupun geser perlu
diatur tergantung stasiun berikutnya yang dipilih.

Gambar 2.3.a Modul Changer selinder putar dengan vacum

Selinder geser vertical

Selinder geser horisontal Sensor


Magnetik

Gripper
Sensor inductif
proximity

Gambar 2.3.b Modul Changer selinder geser dengan gripper


20
2.4 Komponen-Komponen Stasiun Distribusi
Pengelompokan komponen pada statiun distribusi dibagi menjadi 3 bagian yaitu
komponen pneumatik, komponen elektrik, dan komponen penunjang sistem.
a. Komponen Pneumatik
Komponen pneumatik terdiri dari silinder dan katup-katupnya. Berikut akan
dijelaskan satu per satu mengenai komponen-komponen tersebut beserta
fungsinya pada stasiun distribusi.

Tabel 2.1 Komponen Pneumatik Stasiun Distribusi

NO GAMBAR SPESIFIKASI DESKRIPSI

1 • D-LFR-1/8-D-MINI Unit pelayanan udara


• Tekanan kerja max berfungsi sebagai penyedia
1200 Kpa (12 bar) udara yang bersih dan kering
• Diaphragm control untuk mensuply udara ke
value max 1600 mesin.
kpa(16 bar)

2 DSNU-8-80-PA Silinder kerja ganda yang


Media: udara kering, dipergunakan untuk
berpelumas atau mengeluarkan benda kerja
tanpa pelumas

3 Double Root Selinder Ganda

4 PART NUMBER : MHZ2- Gripper dipakai untuk


20D SMC Type mengambil benda kerja
Bore size : 20mm dengan bantuan tekanan
Double Acting
Max pressure: 0.7Mpa untuk mengapit benda kerja
Temperature: -10~60C

5 Air flow control vallve Katup kontrol kecepatan


aliran satu arah dipergunakan
untuk mengatur kecepatan
pada silinder kerja ganda.

6 Tekanan kerja min./ Katup satu arah digunakan


maks : -1 bar / 10 bar untuk memblokir aliran pada
diameter selang satu arah.
8mm

21
NO GAMBAR SPESIFIKASI DESKRIPSI

7 Manifold Katup
terminal yang
dipergunakan untuk
mengendalikan silinder kerja
ganda, geser dan gripper

b. Komponen Elektrik
Tabel 2.2 Komponen Elektrik Stasiun Distribusi

NO GAMBAR SPESIFIKASI DESKRIPSI

SME-8-S-LED-24, Inductif switch adalah


reed contact, 24 V,
proximity switch yang
kemampuan kontak
10W. dioperasikan secara induksi
untuk mendeteksi benda
logam yang ada pada
magazine dan untuk
membatasi gerak selinder
ganda

Sensor magnetik

E3F-DS30C4 DC 6-
IR Distance sensor dipakai
36V NPN NO 300mA
3 Wired Infrared untuk mendeteksi ketinggian
dan penempatan benda
changer.

NO/NC push button


Sakalr On /Off
switch

MCB 1 phase 2 A
MCB sebagai pengaman
darai hubung singkat
rangkaian

22
Single selenoid valve

Double selenoid valve

PLC CP 1E -20SDRA
Sebagai rangkaian control
terprogram

23
c. Komponen Penunjang
Tabel 2.3 Komponen Penunjang Stasiun Distribusi

NO GAMBAR SPESIFIKASI DESKRIPSI


Terminal kabel untuk Terminal I/O dan kabel syslink
. untuk menghubungkan
komponen sensor dan aktuator
stasiun distribusi dengan PLC
board.
Kanal sirip Kanal sirip untuk tempat
jalannya kabel dari komponen
ke terminal I/O.

Alumunium Profil Untuk membuat rangka


menempatkan selinder dan
sensor.

Tubing 4 mm,6mm, Untuk menghubungkan


8mm
rangkaian pneumatik antara
silinder dengan katup terminal.

d. Power Supply
Tabel 2.4 Komponen Power Suplai Stasiun Distribusi

NO GAMBAR SPESIFIKASI DESKRIPSI


0 – 20 bar
Kompresor untuk menyediakan
25 liter
udara bertekanan.

• INPUT : 220 VAC Berfungsi sebagai sumber


• OUTPUT : 24 VDC/ tegangan 24VDC.
5A

2.5 Urutan Kerja Stasiun Distribusi


Distribution station memisahkan benda kerja dari modul „stack magazine”. “Stack
magazine” dapat diisi benda kerja yang tersusun sampai 4 buah. Isi stack
magazine dimonitor oleh sensor inductif. Silinder kerja ganda mendorong keluar
benda kerja satu per satu.

24
Modul Changer memegang benda kerja yang sudah keluar dari magazine
dengan menggunakan gripper. Lengan dari unit pemindah yang digerakkan oleh
silinder geser vertical dan horisontal, membawa benda kerja ke statiun
berikutnya.

Deskripsi Sekuensial
Prasyarat START
 Magazine diisi benda kerja.

Posisi awal
 Silinder “Ejecting” di luar,
 Silinder putar berada di posisi 'magazine',
 Gripper sedang ‘OFF’.

Urutan kerja
1. Silinder sliding geser ke posisi station berikutnya jika benda kerja
teridentifikasi di magazine dan tombol START ditekan.
2. Silinder “Ejecting” maju dan mendorong benda kerja keluar dari magazine.
3. Silinder slidding horisontal dan vertical bergeser ke posisi 'magazine'.
4. Gripper dihidupkan. Jika benda kerja terpegang
5. Silinder “Ejecting” mundur dan melepas benda kerja.
6. Silinder sliding geser ke posisi statiun berikutnya.
7. Gripper dimatikan (OFF).
8. Silinder sliding geser ke posisi 'magazine'.

2.6 Gambar Rangkaian MPS Stasiun Distribusi

Ada dua rangkaian dalam MPS ini yaitu Rangkaian Pneumatik dan Rangkaian
Elektrik

25
WIRING INPUT

26
WIRING OUTPUT

Y1 Y8 Y5 Y3 Y7

Y4 Y2 Y6

27
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3

PERAKITAN STASIUN DISTRIBUSI

A. Tujuan

Setelah selesai mempelajari modul ini peserta dapat:


1. memilih jenis peralatan yang sesuai untuk merakit MPS Stasiun Distribusi
2. menemukan prosedur pemasangan komponen-komponen pneumatik dan
elektrik sesuai “Professional Practice” World Skill Competetion (WSC).
3. merakit MPS Stasiun Distribusi sesuai gambar rangkaian pneumatik dan
elektrik serta sesuai panduan perakitan.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Menemukan prosedur perencanaan, perakitan, pemrograman dan


pengujian sistem robotika Modular Production System (MPS).

2. Menginstalasi, melakukan pengaturan mekanik, mengkonfigurasi,


memprogram dan mengoperasikan sistim robotika MPS.

B. Uraian Materi

3.1 Proffesional Practice


Perakitan komponen-komponen pneumatik ke aluminium profile plate
menggunakan “Professional Practice (PP) World Skill Competetion (WSC)”
sebagai acuan/standarnya. Untuk pemasangan komponen acuannya adalah
sebagai berikut.

Semua komponen-komponen pneuma tik


dan elektrik harus berada di dalam plat
profil alumunium. Pemasangan modul/
komponen yang menonjol keluar dari plat
profil seperti gambar 3.1 tidak diperboleh
kan.
Gambar 3.1 Pemasangan komponen

28
Pemasangan kanal sirip untuk kabel harus
terpasang pada plat profil aluminium
dengan menggunakan 2 sekrup yang
dilengkapi dengan mur seperti terlihat
pada gambar 3.2.
Gambar 3.2 Pemasangan kanal sirip

Tabel 3.1 Proffesional Practice


a. Pemasangan kabel dan tubing:

Deskripsi Ok Not Ok

Kabel dan tubing


harus terpasang
pada plat aluminium
secara terpisah tidak
boleh dijadikan satu.

Jika kabel elektrik,


optik dan tubing
bersama-sama
menuju modul yang
bergerak
diperbolehkan.

Tubing-tubing diikat
dengan kabel tie
dengan potongan A
tidak lebih dari 1 mm.
A ≤ 1 mm.

Jarak kabel tie


maksimum 50 mm.

Jarak dari sambungan


pneumatik terdekat
dengan kabel tie 60 ±
5 mm

29
Deskripsi Ok Not Ok

Tubing tidak boleh


tercekik yang dapat
mengakibatkan
aliran terganggu.

Tubing tidak boleh


lewat ke dalam
kanal sirip.

Sambungan
pneumatik tidak
boleh bocor.

Kabel elektrik, optik


dan tubing harus
diikat ke cable
holder seperti pada
gambar ok. Jarak
antara cable holder
maksimum 120 mm
(≤ 120 mm).

30
Deskripsi Ok Not Ok

b. Pemasangan/sambungan kabel elektrik:

Deskripsi Ok Not Ok

Semua modul dan


komponen dalam
keadaan aman.
Tidak ada bagian
dari komponen yang
rusak termasuk
kabelnya.

Kepala sekrup/baut
harus dalam keadaan
baik, tidak ada yang
rusak.

Kawat pada ujung


sepatu kabel (end
sleeve) harus tidak
terlihat.

Bagian yang tidak ter-


isolasi tidak terlihat
pada sambungan
terminal

31
Deskripsi Ok Not Ok

Semua ujung kabel


serabut harus diberi
selongsong (end
sleeves) dengan
ukuran yang sesuai.
0,25, 0,5, 0,75 mm2.

Sambungan dengan
clamp bisa dilakukan
tanpa end sleeves.
Kabel serabut tidak
boleh keluar dari
clamp.

Kabel dalam kanal


harus diberi spare.

Tidak boleh ada


selubung kabel yang
keluar dari kanal
sirip.

Kanal sirip harus


dapat ditutup dengan
rapat.

32
Deskripsi Ok Not Ok

Isolasi kabel tidak


boleh rusak.

Kabel yang terlalu


panjang dalam kanal
sirip tidak boleh
keluar dari ujung
kanal.

Kabel melintasi rel


harus diamankan
oleh cable holder.

33
Deskripsi Ok Not Ok

Kabel yang keluar


dari kanal sirip tidak
boleh menyilang.
Hanya satu
sambungan sensor/
aktuator per slot kabel
sirip.
Tidak ada pengawatan
diatas komponen.
Dari kanal sirip ke
komponen tidak ada
selubung kabel.

Kabel tidak terpakai


harus dipotong
ujungnya, ditekuk
dan diikat.

Bending untuk kabel > 25 mm


optik dengan radius
minimal 25 mm

34
c. Peralatan kerja yang digunakan:

Deskripsi Ok Not Ok

Peralatan kerja tidak


boleh ditaruh di atas
stasiun dan di lantai.

Komponen yang tidak


dipakai dan benda
kerja harus dipindah
dari stasiun.

Semua komponen
harus ditempatkan di
kotak di atas meja.

3.2 Peralatan Kerja Yang Dibutuhkan

Peralatan yang digunakan untuk merakit MPS adalah seperti pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Peralatan untuk perakitan MPS

NO NAMA GAMBAR NO NAMA GAMBAR

1 Allen Key 5 Cutting


Pleier

35
NO NAMA GAMBAR NO NAMA GAMBAR

2 Crimping 6 Insulated
tool cutting
pliers

3 Electric 7 Wrench
Screwdriver

4 Tubing
Cutter

3.3 Bahan Yang Dibutuhkan

Bahan yang digunakan untuk merakit MPS adalah seperti pada tabel berikut.

Tabel 3.3 Bahan MPS

NAMA GAMBAR NAMA GAMBAR

Tubing End sleeves

3.4 Modul-Modul dan Sensor


MPS yang dipergunakan untuk perakitan adalah MPS Stasiun Distribusi.
Sebelum dirakit semua komponen MPS dilepas semuanya, hasilnya seperti pada
gambar 3.3.

Gambar 3.3 Komponen dan modul MPS Stasiun Distribusi

36
37

You might also like