0% found this document useful (0 votes)
191 views3 pages

Kompos Metis (GCS 14-15)

Uploaded by

Langit Laundry
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
191 views3 pages

Kompos Metis (GCS 14-15)

Uploaded by

Langit Laundry
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

a.

Kompos metis (GCS 14-15)


Suatu keadaan sadar penuh atau kesadaran yang normal
b. Somnolen (GCS 13-11)
Suatu keadaan mengantuk dan kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. Somnolen disebut
juga letargi atau obtundasi. Somnolen ditandai dengan mudahnya klien dibangunkan, mampu
memberi jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri.
c. Sopor atau Stupor (GCS 8-10)
Suatu keadan dengan rasa ngantuk yang dalam. Klien masih dapat dibangunkan dengan rangsang
yang kuat, singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Dengan rangsang nyeri klien tidak dapat
dibangunkan sempurna. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. Tidak dapat
diperoleh jawaban verbal dari klien. Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik.
d. Koma ringan atau semi koma (GCS 5-7)
Pada keadaan ini, tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Reflek (kornea, pupil dan
sebagainya) masih baik. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsang nyeri.
Reaksi terhadap rangsang nyeri tidak terorganisasi, merupakan jawaban primitif. Klien sama
sekali tidak dapat dibangunkan.
e. Koma (dalam atau komplit) (GCS 3-4)
Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang
bagaimanapun kuatnya. (Lumbatobing, 1998
Respon Nilai
a. Membuka mata
 Spontan 4
 Terhadap bicara 3
(Suruh pasien membuka mata)
 Dengan rangsang nyeri 2

(Tekan pada saraf supraorbita atau kuku)


 Tidak ada reaksi 1

(Dengan rangsang nyeri pasien tidak membuka mata)

b.
Respon verbal (bicara) 5
 Baik dan tidak ada disorientasi
(Dapat menjawab dengan kalimat yang baik dan tahu
dimana ia berada) 4
 Kacau (confused)
(Dapat bicara dengan kalimat, namun ada disorientasi
waktu dan tempat) 3

 Tidak tepat
(Dapat mengucapkan kata-kata, namun tidak berupa
kalimat dan tidak tepat) 2

 Mengerang
(Tidak mengucapkan kata, hanya suara mengerang)
1
 Tidak ada jawaban

c. Respon motorik (gerakan)


 Menurut perintah 6
(Mi misal nya : suruh pasien angkat tangan)
 Mengetahui lokasi nyeri 5
(Berikan rangsang nyeri, misalnya menekan dengan jari
pada supraorbita. Bila oleh rasa nyeri pasien mengangkat
tangannya sampai melewati dagu untuk maksud menapis
rangsang tersebut berarti ia dapat mengetahui lokasi nyeri)
 Reaksi menghindar
 Reaksi Fleksi (dekortikasi) 4

(Berikan rangsang nyeri, misalnya menekan dengan objek 3

keras, seperti bolpoint, pada jari kuku. Bila sebagai


jawaban siku memfleksi, terdapat reaksi fleksi terhadap
nyeri (fleksi pada pergelangan tangan mungkin ada atau
tidak ada)
 Reaksi ekstensi (deserebarsi)
(Dengan rangsang nyeri tersebut diatas terjadi ekstensi
pada siku. Ini selalu disertai fleksi spastik pada 2
pergelangan tangan)
 Tidak ada reaksi
1

You might also like